Sejarah Pondok Pesantren Attaqwa Putri

Berdirinya Pondok Pesantren Attaqwa Putri berawal dari keinginan kiaihaji Noer Alie untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan. Pada tahun 1940, kiaihaji Noer Alie kembali dari belajar di Makkah Al Mukarramah, Beliau – penduduk desa memanggilnya dengan almaghfurillah – berinisiatif mendirikan pesantren tradisional dan berlokasi di desa asalnya, atau lebih tepatnya di dekat rumahnya (sekarang menjadi Pondok Pesantren Attaqwa Putri). Ketika itu proses belajar mengajar hanya berupa pengajian biasa, yakni bagaimana mengajarkan cara membaca Al Quran yang baik dan benar kepada para penduduk.

Ketika terjadi agresi Belanda,  almaghfurillah berperan dalam perang melawan penjajahan, praktis seluruh kegiatan belajar dipesantren tradisional ini praktis berhenti. Pada tahun 1950, setelah keadaan berangsur pulih maka Beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dan disusul dengan pendirian Pesantren Islam Bahagia yang setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah. Pada tahun 1956 dibentuk suatu yayasan untuk menaungi seluruh kegiatan belajar mengajar yang bernama Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam(YP3I) yang tertuang dalam Akta Notaris Eliza Pondang SH. Pada tahun 1962 didirikan Madrasah Menengah Attaqwa (MMA) yang merupakan perubahan sistem dari Pesantren Islam Bahagia, dengan lama pendidikan selama 6 tahun, dan pada tahun 1964 didirikan pesantren putri yang menjadi cikal-bakal Pondok Pesantren Attaqwa Putri.

Pondok Pesantren Attaqwa Putri, semula bernama Pesantren al Baqiyatussalihat. Didirikan pada tahun 1964, namun baru secara formal diresmikan satu tahun sesudahnya, yakni pada tahun 1965. Pada awalnya, Pesantren al Baqiyatussalihat berada di bawah naungan Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam (YP3I). Pada 17 Desember 1986, Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam berganti nama menjadi Yayasan Attaqwa, maka Pesantren al Baqiyatussalihat pun berganti nama menjadi Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Pondok Pesantren Attaqwa Putri merupakan sekolah swasta dengan akta notaris Soedirja, S.H di Bekasi No.16/17 Desember 1986. Pondok ini terdiri dari Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, pada tahun 1986 didirikanlah jenjang yang lebih tinggi, yakni Pesantren Tinggi Attaqwa Putri.

Pondok ini memiliki struktur organisasi yang lengkap dan terpisah dari Pondok Pesantren Attaqwa Putra. Dipimpin oleh seorang Pimpinan Pondok sebagai pemimpin utama, dan diperbantukan oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Kepala Madrasah Aliyah (MA). Baik Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah memiliki struktur yang berbeda, namun kedua struktur tersebut bertanggungjawab langsung pada pimpinan pondok.

Pondok ini telah mengalami lima kali pergantian pimpinan pondok sejak didirikan pada tahun 1964. Adapun daftar pimpinan pondok sejak tahun 1964 adalah sebagai berikut: K.H. Ahmad Tadjuddin (tahun 1964-1969), Drs. H. Mas’ud Abdullah (tahun 1969-1977), H. Ahmad Madrais Hajar, Lc (tahun 1977-1980), K.H. Muhammad Amin Noer, Lc. (tahun 1980-1986), dan Hj. Atiqoh Noer Alie, Lc., MA., (tahun 1986-sekarang). Seluruh staff personalia pondok ini merupakan perempuan, demikian pula tenaga pengajarnya. Hampir 85% tenaga pengajar pondok ini adalah perempuan, dan kebanyakan dari mereka adalah alumni yang mengajar setelah menyelesaikan studi sarjana dan pascasarjana di berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri.

Latar belakang pendirian Pondok Pesantren Attaqwa Putri adalah wujud kepedulian dan perhatian yang besar dari pendiri Yayasan Attaqwa, almaghfurillah kiai haji Noer Alie terhadap pendidikan kaum perempuan. Pada saat itu, pendidikan untuk kaum perempuan khususnya bagi masyarakat di Bekasi masih menjadi sesuatu yang sangat jarang dan sangat mahal. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kebiasaan untuk kawin muda menjadi faktor penghambat bagi berkembangnya pendidikan di masyarakat. Banyak dari perempuan-perempuan di Ujungharapan dan sekitarnya yang menikah di usia yang sangat dini sehingga kemampuan untuk mengurus rumah tangga pun masih sangat minim. Hal ini disadari betul oleh kiai haji Noer Alie, beliau berpendirian bahwa perempuan sesungguhnya sangat memerlukan pendidikan yang layak, hal ini sehubungan dengan perannya sebagai guru pertama bagi anak-anaknya. Dengan demikian, pendidikan untuk perempuan adalah hal yang tidak dapat ditawar lagi. Pada tahun 1964 didirikanlah Pesantren al Baqiyatussalihat, yang pada awal berdirinya hanya memiliki tujuh orang santri dan belajar di ruangan seadanya. Sambutan dari masyarakat pun masih sangat minim, bahkan tidak jarang orang tua yang telah memasukkan anaknya untuk belajar di pondok ini diambil kembali karena kekhawatiran bahwa anaknya akan menjadi perawan tua dan tidak laku. Pada akhirnya kiai haji Noer Alie mengeluarkan peraturan, bahwa santri yang disekolahkan di pondok ini tidak diperbolehkan untuk berhenti kecuali setelah belajar selama empat tahun. Pada saat ini, setiap santri yang belajar di pondok ini diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan mereka setelah belajar selama enam tahun, yakni tiga tahun di Madrasah Tsanawiyah dan tiga tahun di Madrasah Aliyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *